jump to navigation

Prof. T Jacob

TEUKU JACOB

Setelah empat tahun memangku jabatan rektor UGM, sejak 1982, antropolog ragawi ini kembali tenggelam di laboratorium. Ia menekuni lagi fosil manusia dan binatang sebagai kepala laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi. ‘’Saya cuma istirahat seminggu,’’ ujarnya ketika memasuki ruang kerjanya di Sekip Barat, kompleks Bulaksumur, Yogyakarta.

Bungsu dari tiga bersaudara anak Teuku Sulaiman, Jacob tamat SMA di Banda Aceh, 1949. Lulus FK UGM, 1956, ia belajar di Universitas Amerika, Washington DC, tetapi mengambil gelar doktor di Rijksuniversiteit, Utrecht, Negeri Belanda, 1970. Di dua perguruan tinggi ini, Jacob dibimbing dua arkeolog ternama: Prof. Dr. W. Montague Cobb, dan Prof. Dr. G.H.R. Koenigswald.

Alih-alih berpraktek sebagai dokter, Jacob lebih banyak menghabiskan waktu sebagai ahli fosil. Guru besar antropologi UGM ini sempat pula menjadi dosen tamu di San Deigo, AS. Pulang ke Indonesia, ia mengepalai seksi antropologi ragawi FK UGM, kemudian sekretaris, lantas dekan fakultas yang sama, sebelum menjabat rektor, menggantikan Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardja.

Gagasannya di bidang pendidikan terasa orisinil. Misalnya, ia pernah melempar gagasan untuk menerima lulusan SMA IPS di fakultas kedokteran. Ia juga gusar melihat sebagian besar insinyur bekerja di kota. ‘’Kalau dokter bisa menjadi dokter Inpres, mengapa insinyur tidak,’’ katanya.Tetapi, memenuhi harapan Menteri P & K untuk mencetak kader penerus kegiatan bidang ilmu yang digelutinya, ia malah merasa sulit. Orang tidak banyak tertarik bidang ini karena hasilnya tidak langsung dirasakan. Lagi pula, bidang ini erat berkaitan dengan antardisiplin: ilmu kedokteran, biologi, kedokteran gigi, arkeologi, dan antropologi budaya. ‘’Menyiapkan program pendidikannya pun menjadi susah,’’ ujarnya.

Di beberapa negara, Jacob tercatat sebagai anggota sejumlah perkumpulan. Ia juga menulis beberapa karya. Jacob menolak anggapan para ahli Barat bahwa manusia purba di kawasan Sangiran, Solo, bertradisi mengayau — memenggal kepala lalu memakan otak sesamanya. Ia menyatakan, ‘’Temuan-temuan tengkorak Sangiran umumnya sudah tidak bertulang dasar, rusak karena lemah. Lagi pula, manusia purba cukup bekerja dua jam untuk makan sepanjang hari, sehingga rangsangan untuk membunuh menjadi berkurang.’’

Menikah dengan Nuraini, Jacob dikaruniai seorang anak wanita. Kegemarannya cuma membaca. Bila bepergian, ia sering membawa banyak kopor. Bukan pakaian, melainkan tulang belulang. Ketika membawa fosil ke Tokyo, 1977, ‘’Saya dijaga ketat, pakai polisi bersirene, dan lampu merah segala,’’ ceritanya.

Tidak selamanya serius, Jacob juga suka berkelakar. ‘’Orang bisa memancarkan wibawanya lewat berbusana bersih, rapi, dan wangi,’’ katanya. Tetapi, ‘’Di dunia kami lain. Semakin kumal baju yang dikenakan seorang peneliti, apalagi kalau ada lubang di sana-sini, ia akan semakin tampak berwibawa, dan lebih dihormati.

Nama : TEUKU JACOB
Lahir : Peureulak, Aceh Timur, 6 Desember 1929
Agama : Islam
Pendidikan :
-SD, Langsa (1943)
-SMP, Kutaraja (1946)
-SMA, Kutaraja (1949)
-Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta (1956)
-Universitas Amerika, Washington DC, AS (1960)
-Rijksuniversiteit, Negeri Belanda (Doktor, 1967)

Karir :
-Asisten Ahli Antropologi UGM (1954-1963)
-Lektor Muda, kemudian Lektor Kepala Antropologi UGM (1963- 1971)
-Asisten Anatomi Universitas Amerika, Washington DC (1959- 1960)
-Guru Besar Tamu Paleontologi, Manusia, San Diego (1968)
-Guru Besar Antropologi UGM (1971-sekarang)
-Sekretaris Fakultas Kedokteran UGM (1973-1975)
-Ketua Bidang Ilmu Kedokteran Lembaga Pendidikan Doktor UGM (1977-sekarang)
-Anggota Komisi Kerja Senat UGM (1977-sekarang)
-Rektor UGM (1982-1986)

Kegiatan Lain :
-Pemimpin Redaksi Berkala Ilmu Kedokteran (1969- sekarang)
-Anggota American Association of Physical Anthropologists
-Anggota Society for the Study of Social Biology
-Anggota American Association for the Advancement of Science
-Anggota Societe d’Anthropologie de Paris
-Anggota Society for Medical Anthropology

Karya :
Karya tulis penting:
Antara lain: -The Sixth Skull Cap of Pithecanthropus Erectus, American Journal of Physical Anthropology, 1966
-Some Problems Pertaining to the Racial History of the Indonesia Region, Neerlandia, Utrecht, 1967
-The Phitecanthropus of of Indonesia, Bulletins et Memoires de Societe d’Anthropologie de Paris, 1975

Alamat Rumah : Bulaksumur A 14, Yogyakarta
Alamat Kantor : Kampus UGM, Bulaksumur, Yogyakarta

Sumber: http://www.pdat.co.id

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: